×
Pusat Penelitian Agronomi (Puslitagro) Jatitujuh merupakan unit diversifikasi produk dan riset on-farm yang berada di bawah naungan PT PG Rajawali II, bagian dari holding BUMN. Sejarah pendirian dan perkembangannya terikat erat dengan dinamika industri gula nasional di wilayah Jawa Barat.
Berikut adalah lini masa sejarah dan perkembangan Puslitagro Jatitujuh:
Akar Sejarah Industri (1968–1980)
1968: Pemerintah mendirikan Perusahaan Negara Perkebunan (PNP) XIV.
1971–1977: Guna memenuhi kebutuhan gula nasional, direncanakan pembangunan pabrik gula baru di Majalengka. Pabrik Gula (PG) Jatitujuh mulai dibangun pada tahun 1977 oleh perusahaan Prancis, Fives-Cail-Babcock.
1980: PG Jatitujuh diresmikan secara langsung oleh Presiden Soeharto pada 5 September 1980.

Alih Kelola dan Pembentukan Unit Riset (1981–1996)
1981: Status perusahaan berubah menjadi PTP XIV (Persero) berdasarkan PP No. 10 Tahun 1981.
1988: Karena kendala finansial dan manajemen pada PTP XIV, pengelolaan aset (termasuk PG Jatitujuh) diserahkan kepada PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) melalui SK Menteri Keuangan No. 1326.
1996: Nama PTP XIV resmi diubah menjadi PT PG Rajawali II. Di bawah manajemen baru ini, dibentuklah unit penunjang riset pertanian tanaman tebu yang dikenal sebagai Puslitagro, yang berpusat di komplek perkebunan Jatitujuh, Majalengka.

Modernisasi dan Peran Strategis Saat Ini
Sebagai pusat riset agroindustri tebu lahan kering terbesar di wilayahnya, Puslitagro mengelola beberapa fasilitas modern:
Laboratorium Terpadu: Mengoperasikan Laboratorium Mikropropagasi (kultur jaringan), Laboratorium Tanah & Pupuk, Laboratorium Perlindungan Tanaman, serta Laboratorium Hayati.
Inovasi Perbenihan: Fokus pada penemuan dan uji multilokasi Varietas Unggul Baru (VUB) tanaman tebu bersama P3GI Pasuruan guna meningkatkan rendemen dan produktivitas gula.
Layanan Agro: Menyediakan benih tebu unggul bersertifikat serta jasa analisa tanah dan daun bagi petani tebu rakyat maupun kebun internal perkebunan.

//