PG Subang

Sesuai Penetapan Presiden (Perpres) No. 6 tahun 1964 tanggal 26 November 1964 tentang Penguasaan dan Pengurusan Perusahaan-Perusahaan Milik Inggris di Indonesia, seluruh Perusahaan milik warga negara Inggris, baik perorangan maupun badan hukum, dikuasai sepenuhnya secara langsung serta diurus oleh Pemerintah Negara Republik Indonesia.

Salah satu Perusahaan Inggris yang dikuasai untuk diambil alih dan diurus oleh Pemerintah Negara Republik Indonesia adalah Perkebunan Pamanoekan & Tjiasem Lands disingkat P & T Lands PT yang terletak di Subang, milik Perusahaan The Anglo Indonesia Plantation Limited.

Tanaman komoditas yang ditanam oleh P & T Lands PT pada waktu itu adalah tanaman rosella dan karet.

Tanggal 18 November 1971, ditandatangani persetujuan penyerahan P & T Lands PT antara Pemerintah Negara Republik Indonesia dengan The Anglo Indonesia Plantation Limited sebagai pemilik P & T Lands PT.

Terhitung sejak ditandatanganinya persetujuan tersebut, maka perkebunan yang tadinya milik P & T Lands PT secara penuh menjadi milik Negara Republik Indonesia.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian (SK Mentan) No. 71/Kpts/Org/2/1971, Perusahaan Perkebunan “SUBANG” ditugaskan untuk mengurus dan mengelola kebun-kebun peninggalan milik P & T Lands PT.

Melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 25 tahun 1973 tanggal 21 Mei 1973 tentang Penyertaan Modal Negara Republik Indonesia Untuk Pendirian Perusahaan Perseroan dibidang Perkebunan, Negara Republik Indonesia melakukan penyertaan dalam modal saham di Perusahaan Perkebunan “SUBANG” dan kemudian berubah menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perkebunan XXX disingkat PT Perkebunan XXX (Persero).

Pada tanggal 29 Juni 1976 terbit Instruksi Menteri Pertanian No. 13/INS/UM/1976, dimana dictum pertama ayat 4 berbunyi :

“Sebagai pengganti komoditas karet agar diadakan penelaahan tentang kemungkinan komoditas tebu dengan dengan memperhatikan aspek teknis, ekologi dan sosial ekonomi”.

Untuk merealisasikan Instruksi Menteri Pertanian tersebut, Proyek Pengembangan Industri Gula (PPIG) bekerja sama dengan PT Perkebunan XXX (Persero) mengadakan percobaan penanaman tebu di areal Perkebunan Subang.

Pada tahun 1978/1979 dimulai tahap pelaksanaan konversi dari tanaman karet ke tanaman tebu seluas 800 hektar. Tanaman tebu saat itu digiling di Pabrik Gula Tersana Baru.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 681/MENTAN-X/1978 tanggal 14 Oktober 1978, Menteri Pertanian selaku Pembina Teknis Perkebunan menyerahkan pengelolaan areal Perkebunan Subang yang terdiri dari Perkebunan Pasir Bungur, Pasir Muncang dan Manyingsal kepada Perusahaan Negara Perkebunan XIV.

Menindaklanjuti Surat Keputusan Menteri Pertanian diatas, pada tanggal 22 Februari 1979 dilaksanakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Perkebunan XXX (Persero). Salah satu keputusan yang dihasilkan pada RUPS tersebut adalah dilakukan serah terima pengelolaan sebagian asset PT Perkebunan XXX (Persero) kepada Perusahaan Negara Perkebunan XIV yang terdiri dari Perkebunan Pasir Bungur, Pasir Muncang dan Manyingsal, termasuk pengelolaan karyawannya.

Sebagai tindaklanjut dari RUPS PT Perkebunan XXX (Persero), Menteri Pertanian kembali menerbitkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 135/Kpts/OP/1979 tanggal 26 Februari 1979 tentang

Pembentukan Tim Pelaksanaan Pemasukan Aktiva dan Pasiva PT Perkebunan XXX (Persero) kepada            PT Perkebunan XII, PT Perkebunan XIII dan Perusahaan Nasional Perkebunan (PNP) XIV.

Berdasarkan laporan Tim Pelaksanaan Pemasukan Aktiva dan Pasiva PT Perkebunan XXX, Menteri Pertanian menginstruksikan Perusahaan Nasional Perkebunan (PNP) XIV untuk menerima sebagain aset PT Perkebunan XXX (Persero).

Instruksi tersebut dituangkan dalam Surta Menteri Pertanian No. 1011/Mentan/XII/1980 tanggal                    9 Desember 1980.

Pada tahun 1981 dimulai pembangunan fisik Pabrik Gula Subang dan giling pertama Pabrik Gula Subang dilakukan pada tanggal 18 Oktober 1984.

PT PG Rajawali II Unit Pabrik Gula Subang terletak di blok Cidangdeur, Desa Pasirbungur, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Subang, Jawa Barat, dengan posisi ± 25 km dari kota Subang ke arah barat dan ± 15 km ke arah Sukamandi (Jalur Pantura).

Lokasi ini dipilih sebagai tempat pabrik karena 75% areal kebun tebu terletak di daerah ini sehingga akan lebih memudahkan proses transportasi tebu ke pabrik.

Areal perkebunan tebu Pabrik Gula Subang memiliki luasan 5.669 ha, dengan lahan seluas 660 ha merupakan lahan sewa dan lahan seluas 184 ha adalah lahan tebu rakyat bebas.

Secara geografis, kedudukan Pabrik Gula Subang dan areal perkebunannya terletak diantara 107°41°16° BT sampai 107°41°18° BT dan 6°24°46° LS sampai 6°24°48° LS, dengan ketinggian 31-33 m diatas permukaan laut.

Daerah PG Subang merupakan daerah datar sampai bergelombang dengan kemiringan 3-10%.

Sejak tahun 2019 Pabrik Gula Subang vakum berproduksi dan direncanakan untuk kembali produksi di tahun 2023.