PG Sindang Laut

Berawal dari berakhirnya tanam paksa di Belanda pada tahun 1860, terjadilah politik Liberal yang dimulai tahun 1870. Kaum Liberal Belanda terdiri atas para investor atau pengusaha swasta dengan firma-firmanya. Kaum Liberal berhasil memenangkan tuntutannya yaitu agar Pemerintah Belanda membuka wilayah jajahan bagi para investor untuk mendirikan usaha berupa pabrik-pabrik gula yang saat itu telah mengadopsi teknologi paling baru.

Banyak pengusaha Belanda yang tertarik untuk mencoba peruntungan di tanah jajahan Belanda. Salah satunya adalah Benjamin Feist, yang kemudian mencoba peruntungannya dengan mendirikan 1 (satu) unit Pabrik Gula di wilayah Sindang Laut.

Berdasarkan data yang disadur dari buku “Suiker Lord” yang ditulis oleh J. Hudig DZ pada tahun 1886, Pabrik Gula Sindang Laut didirikan oleh Benjamin Feist pada tahun 1872 dengan membentuk suatu firma yang bernama “Maatschappij Tot Axploitatie Des Suikerfabriek Sindanglaoet”.

Untuk menjamin lancarnya pembiayaan dan operasional Pabrik Gula miliknya, di tahun 1891 Benjamin Feist bekerjasama dengan salah satu “The Big Six” pemodal yaitu Nederlandsch Indies Landbouw Maatschappij (NILM).

Ada kemungkinan angka tahun yang tertera di cerobong asap Pabrik Gula Sindang Laut adalah tahun dimana penggabungan Pabrik Gula Sindang Laut dibawah pengelolaan Nederlandsch Indies Landbouw Maatschappij (NILM) yang  sebelumnya bernama NHIB dengan kantor perdagangannya CV. Waller & Plato dan kemudian namanya berubah menjadi ”N.V. Mij Tot Exploitative der Suikerfabriek Sindanglaut”.

Menurut data yang terdapat dalam kolonial veerslag tahun 1905 opgaven 1904 betrevend de suiker industry, dari lahan tebu yang dimiliki seluas 1.152 hektar dengan jumlah tebu yang ditanamnya mencapai 1.378.351 pikools atau setara dengan 82.701,06 ton, Pabrik Gula Sindang Laut ini mampu menghasilkan gula sebanyak 175.458 pikools atau setara dengan 10.572,48 kg gula dan gula stroop sebanyak 6.198 pikools atau setara dengan 409,14 ton.

Akan tetapi pada saat terjadinya krisis internasional di jaman malaise, produksi Pabrik Gula Sindang Laut ini merosot jauh. Hanya 34% lahan yang ditanami , ditambah lagi adanya ketentuan dari pemerintah Belanda yang ikut menandatangani Deklarasi Chandbourne yang membatasi eksport gula Hindia Belanda ke pasar Internasional sehingga Pemerintah Belanda membentuk suatu badan yang bernama “Nederlandsch Indie Veregningde Voor de Afset Van Suiker” (NIVAS) yang mewajibkan semua produsen gula se Hindia Belanda menjual produknya ke Nederlandsch Indie Veregningde Voor de Afset Van Suiker (NIVAS) sehingga menambah berat bagi produsen-produesen gula saat itu termasuk juga NIHB/NILM beserta pabrik gula-pabrik gula yang ada di bawah naungannya.

Undang-undang No. 86/1958, tahun 1958 tentang Program Nasionalisasi Perusahaan Eks. Belanda.

PP No. 19/1959 tentang Penentuan Perusahaan Eks. Belanda, Pabrik Gula termasuk didalam PP ini.

PP No. 159/1961 tanggal 26 April 1961 tentang Pabrik Gula Sindang Laut masuk ke PPN Jabar VI.

PP No. 01/1963 tanggal 28 Januari 1961 tentang PPN dirubah menjadi PPGN.

PP NO. 13/1968 tanggal 13 April 1968 tentang BPU PPGN dirubah menjadi PNP, Cirebon masuk PNP XIV.

PP NO. 10/1981 tanggal 1 April 1981 tentang PNP berubah menjadi PTP XIV.

PP Np. 01/1993 tanggal 8 Januari 1983 tentang PTP XIV menjadi anak perusahaan PT Rajawali Nusantara Indonesia (PT RNI).

RUPS PTP XIV tanggal 12 Agustus 1996 tentang PTP XIV berganti nama menjadi PT PG Rajawali II.

Pada tahun 2020 ini Pabrik Gula Sindang Laut vakum berproduksi dan direncanakan akan kembali aktif pada tahun 2021 untuk mengolah raw sugar.